SEJARAH PortalNusantaraNews.co.id Nama Tan Malaka mungkin terdengar asing bagi banyak generasi muda hari ini. Padahal, ia bukan sekadar tokoh sejarah, ia adalah pemikir besar, pejuang kemerdekaan, dan pendiri ide-ide kebangsaan yang jauh melampaui zamannya.
Tan Malaka lahir di Sumatera Barat pada 1897, dan perjuangannya tidak hanya di medan perang, tapi juga di medan pikiran. Ia menulis, mengajar, dan menggugah kesadaran bangsanya untuk merdeka, bukan hanya secara politik, tapi juga dalam cara berpikir.
Baca Juga: Meneladani Rasulullah, Warga Paseyan Gelar Isra’ Mi’raj dan Haul Akbar
Namun, mengapa nama sebesar itu justru tidak tercatat dalam buku sekolah kita?
Pertanyaan ini bukan sekadar soal sejarah, tapi soal bagaimana narasi bangsa ini disusun.
Tidak semua pahlawan disinari lampu panggung. Ada yang berjalan dalam bayangan, menulis dengan darah, dan akhirnya dilupakan oleh sistem yang lebih memilih kisah yang aman dan sederhana.
Tan Malaka dianggap berbahaya — bukan karena ia berbuat jahat, tapi karena ia berpikir terlalu bebas untuk zamannya.
Ia berbicara tentang keadilan sosial, tentang kemerdekaan sejati tanpa penindasan, tentang pendidikan untuk rakyat miskin, dan tentang bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri.
Ide-ide seperti itu dulu menakutkan bagi penguasa, karena kebenaran yang tajam sering kali mengancam kenyamanan mereka yang duduk di atasnya.
Buku sejarah di sekolah sering kali hanya menampilkan “bagian aman” dari masa lalu — kisah yang tidak menimbulkan kontroversi, yang mudah diajarkan, dan yang tidak menantang cara berpikir kita. Padahal, sejarah sejati bukan hanya tentang kemenangan, tapi juga tentang suara-suara yang dibungkam.
Melupakan Tan Malaka berarti melupakan bagian penting dari jiwa bangsa ini — bagian yang berani berpikir, berani berbeda, dan berani berdiri sendiri.
Ia pernah berkata, “Tujuan hidupku bukan untuk menjadi kaya, tetapi untuk berjuang demi kemerdekaan bangsaku.” Kalimat itu bukan hanya sejarah, itu adalah pesan moral untuk setiap generasi muda yang sedang mencari arti dari perjuangan.
Di dunia modern seperti sekarang, perjuangan bukan lagi dengan senjata, tapi dengan pikiran dan kesadaran. Membaca kembali gagasan Tan Malaka berarti menyalakan api kritis di tengah masyarakat yang sering kali terbuai oleh informasi tanpa makna.
Mungkin inilah saatnya kita bertanya, bukan hanya “mengapa Tan Malaka tidak diajarkan,” tapi juga “apa yang bisa kita pelajari darinya hari ini.” Karena bangsa yang melupakan pemikirnya, perlahan akan kehilangan arah dan identitasnya.
Mari kita kenali kembali Tan Malaka bukan sekadar nama yang hilang dari buku pelajaran, tapi sebagai pemantik kesadaran bangsa.
Bicara Bebas , tempat di mana suara yang terlupakan kembali diberi ruang untuk hidup.
Baca Juga: Kapolres Nganjuk Serahkan Bantuan Drum Band untuk TK Kemala Bhayangkari 50 dan 51
Nama Tan Malaka mungkin terdengar asing bagi banyak generasi muda hari ini. Padahal, ia bukan sekadar tokoh sejarah — ia adalah pemikir besar, pejuang kemerdekaan, dan pendiri ide-ide kebangsaan yang jauh melampaui zamannya.
Tan Malaka lahir di Sumatera Barat pada 1897, dan perjuangannya tidak hanya di medan perang, tapi juga di medan pikiran. Ia menulis, mengajar, dan menggugah kesadaran bangsanya untuk merdeka, bukan hanya secara politik, tapi juga dalam cara berpikir.
Namun, mengapa nama sebesar itu justru tidak tercatat dalam buku sekolah kita?
Pertanyaan ini bukan sekadar soal sejarah, tapi soal bagaimana narasi bangsa ini disusun.
Tidak semua pahlawan disinari lampu panggung. Ada yang berjalan dalam bayangan, menulis dengan darah, dan akhirnya dilupakan oleh sistem yang lebih memilih kisah yang aman dan sederhana.
Tan Malaka dianggap berbahaya — bukan karena ia berbuat jahat, tapi karena ia berpikir terlalu bebas untuk zamannya.
Ia berbicara tentang keadilan sosial, tentang kemerdekaan sejati tanpa penindasan, tentang pendidikan untuk rakyat miskin, dan tentang bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri.
Ide-ide seperti itu dulu menakutkan bagi penguasa, karena kebenaran yang tajam sering kali mengancam kenyamanan mereka yang duduk di atasnya.
Baca Juga: Polisi Amankan Seorang Tersangka Curas Kabel Sibel yang Beraksi di 53 TKP
Buku sejarah di sekolah sering kali hanya menampilkan “bagian aman” dari masa lalu — kisah yang tidak menimbulkan kontroversi, yang mudah diajarkan, dan yang tidak menantang cara berpikir kita. Padahal, sejarah sejati bukan hanya tentang kemenangan, tapi juga tentang suara-suara yang dibungkam.
Melupakan Tan Malaka berarti melupakan bagian penting dari jiwa bangsa ini — bagian yang berani berpikir, berani berbeda, dan berani berdiri sendiri.
Ia pernah berkata, “Tujuan hidupku bukan untuk menjadi kaya, tetapi untuk berjuang demi kemerdekaan bangsaku.” Kalimat itu bukan hanya sejarah, itu adalah pesan moral untuk setiap generasi muda yang sedang mencari arti dari perjuangan.
Di dunia modern seperti sekarang, perjuangan bukan lagi dengan senjata, tapi dengan pikiran dan kesadaran. Membaca kembali gagasan Tan Malaka berarti menyalakan api kritis di tengah masyarakat yang sering kali terbuai oleh informasi tanpa makna.
Mungkin inilah saatnya kita bertanya, bukan hanya “mengapa Tan Malaka tidak diajarkan,” tapi juga “apa yang bisa kita pelajari darinya hari ini.” Karena bangsa yang melupakan pemikirnya, perlahan akan kehilangan arah dan identitasnya.
Mari kita kenali kembali Tan Malaka bukan sekadar nama yang hilang dari buku pelajaran, tapi sebagai pemantik kesadaran bangsa.
Bicara Bebas , tempat di mana suara yang terlupakan kembali diberi ruang untuk hidup.
Editor : Redaksi