PAMEKASAN, PortalNusantaraNews.co.id Ironi yang menyakitkan. Pamekasan yang selama ini dibanggakan sebagai Kota Gerbang Salam, kota santri, kota yang menjunjung tinggi nilai agama, kini justru dipertanyakan kesuciannya.
Tempat-tempat maksiat terang-terangan sudah ditutup. Tapi ternyata, maksiat tidak mati. Maksiat hanya berganti baju dan nama.
Buktinya? Di Dusun Ombul, Desa Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu, warga menduga ada praktik prostitusi yang berjalan mulus, berkedok rumah tangga, dan yang paling menyayat hati, lokasinya berdekatan dengan Masjid.
Masjid yang seharusnya jadi tempat sujud, kini harus berbagi udara dengan tempat yang diduga jadi ajang transaksi syahwat.
WARGA SUDAH TIDAK TAHAN
Keresahan ini bukan gosip warung kopi. Ini jeritan warga yang sudah lama memendam muak, tapi takut bersuara.
> "Kami capek, Mas. Siang malam keluar masuk orang tidak dikenal. Kami mau ibadah kok jadi tidak tenang. Ini kampung santri, bukan kampung maksiat," ujar salah seorang warga yang meminta namanya disembunyikan karena takut diintimidasi.
Desakan warga itulah yang membuat Tim Investigasi PortalNusantaraNews.co.id turun langsung ke lokasi, Selasa, 03 November 2026 sekira pukul 11.40 WIB.
Dan apa yang kami temukan, jauh lebih miris dari laporan warga.
DIDUGA DITAWARI SECARA TERANG-TERANGAN
Di lokasi, tim mendapati dua orang perempuan yang mengaku bernama SI (warga lokal) dan A.U (asal Probolinggo Kota).
Tanpa tedeng aling-aling, keduanya diduga menawarkan jasa kepada pengunjung.
> "Ayo mas, siapa yang mau tidur sama saya," ujar SI sambil tersenyum, sebagaimana ditirukan sumber di lapangan.
Kalimat yang diucapkan begitu ringan, seolah tidak ada rasa malu, seolah tidak ada masjid di sebelahnya.
Saat ditanya soal tarif, salah satu perempuan itu menyebut dengan enteng: *Rp100.000 untuk jasa, Rp50.000 untuk sewa kamar.*
> "Kalau malam tidak buka," ujar SI.
Pernyataan itu seolah menjadi pengakuan, bahwa praktik itu bukan sekali dua kali. Sudah terpola. Sudah ada jam buka. Sudah ada tarif.
Sementara A.U mengaku, ketika tidak ada tamu dirinya membantu pemilik rumah yang disebut Ibu SS untuk membuat kue.
Alibi klasik. Di balik adonan kue, diduga ada transaksi lain yang lebih kotor.

DIDUGA DISAMBUT SEPERTI TAMU VIP
Saat awak media datang dan bertanya kepada seorang laki-laki tak lain pemilik (KR), "Ada bos..?"
Laki-laki yang diduga suami dari Ibu SS itu menjawab tanpa ragu:
> "Ada di dalam, langsung masuk aja."
Tidak ada rasa curiga. Tidak ada rasa takut. Seolah tempat itu memang sudah biasa menerima tamu laki-laki yang mencari "pelayanan".
BANNER KANTOR, ID CARD MISTERIUS, DAN TELEPON YANG DIABAIKAN
Yang membuat tim makin curiga, di dinding lokasi tertempel sebuah banner kecil bergambar logo satu perusahaan (IP) lokal dan bertuliskan dengan jelas KANTOR xxxxxxi xxxo xxxs.
Kantor apa? Kantor siapa? Untuk menutupi apa?
Upaya konfirmasi pun dilakukan. Pimpinan redaksi mencoba mengirimkan link pemberitaan kepada pihak yang diduga pemilik tempat tersebut.
Alih-alih klarifikasi, pesan itu justru dibalas dengan beberapa foto ID Card dari beberapa orang yang satupun tidak dikenal oleh redaksi.
Ada apa dengan ID Card itu? Ancaman? Pamer backing? Atau upaya menakut-nakuti wartawan?
Tak lama kemudian, redaksi menghubungi nomor 082337506xxx melalui panggilan suara WhatsApp untuk meminta penjelasan atas maksud pengiriman ID Card tersebut. Namun panggilan itu tidak dijawab. Diabaikan.
Bungkam adalah jawaban paling buruk bagi mereka yang merasa tidak bersalah.
DIMANA PENGAWASAN DESA DAN APARAT...???
Baca Juga: Jaga Kondusifitas Malang Kota, Polresta Malang Kota Tindak Jukir Nakal yang Viral di Medsos
Hingga berita ini diturunkan, pemilik rumah yang disebut Ibu SS belum berhasil dimintai konfirmasi. Pihak aparat desa dan kepolisian setempat juga masih akan dimintai keterangan terkait pengawasan lingkungan.
Pertanyaannya kini bukan lagi, apakah praktik itu ada? Tapi, *kemana pengawasan selama ini?*
Mengapa di desa yang dikenal religius, praktik yang diduga seperti ini bisa berjalan begitu bebas, begitu terang-terangan, begitu dekat dengan rumah Allah?

Masyarakat sekitar berharap aparat penegak hukum dan Pemerintah Desa Lawangan Daya — desa yang juga merupakan tanah kelahiran Pimpinan Redaksi PortalNusantaraNews.co.id segera melakukan pemeriksaan. Bukan besok, bukan lusa, tapi Sekarang....!!!
Karena jika dibiarkan, Gerbang Salam hanya akan tinggal nama. Tinggal slogan kosong di gapura, sementara di dalamnya, maksiat berpesta dan berkeliaran. Dengan adanya dugaan sebuah rumah, apa sebuah Kantor yang melayani Maksiat. Masyarakat meminta KR dan SS serta pengguni rumah tersebut agar segera angkat kaki dari desa Lawangan Daya, jngan pernah nodai Kampung halamanku, tegas salah satu warga setempat, yang tak mau di publikasikan.
CATATAN REDAKSI
Tim redaksi masih terus melakukan upaya konfirmasi kepada pihak-pihak terkait untuk menjaga keberimbangan informasi.

Redaksi PortalNusantaraNews.co.id tetap menyediakan ruang seluas-luasnya bagi pihak kepolisian maupun pihak terkait lainnya untuk menyampaikan klarifikasi, penjelasan, atau tanggapan guna memenuhi asas keberimbangan informasi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. "Fiat Justitia Ruat Caelum" Hendaklah keadilan ditegakkan, walaupun langit akan runtuh.

Editor : Redaksi