Dongeng Negeri Embegia, “Detik-detik Fegie Bertemu Sang Big Bos”
PortalNusantaraNews.co.id Di negeri Embegia, tempat hukum kadang berjalan mundur sambil jungkir balik dan logika lebih sering cuti dari masuk kerja, malam Jumat Keramat, 24 Juli 2026, berubah menjadi malam paling menegangkan sekaligus paling menggelikan. Bahkan satelit NASA mendadak menampilkan tulisan "System Error: Terlalu Absurd Untuk Dianalisis." Ilmuwan dunia menyerah. Mereka memilih meneliti kenapa amplop di Kantor Kemenhut belum diketahui isinya.
Malam itu, Fegie Akmaluddin menghilang. Bukan ke warung kopi atau tempat karaoke, melainkan ke Bunker Black Hole Infinity, markas superrahasia yang dijaga AI Dukun Quantum, Drone Genderuwo Hyper-X, Laser Anti-Kepo Fotonik, dan Mesin Penghapus Jejak Molekuler yang sanggup menghapus jejak semut habis senam pagi. Satelit mata-mata hanya berhasil memotret seekor gajah sedang membaca dokumen rahasia. Selebihnya gelap gulita.
Di ruang utama harum parfum kekuasaan, aroma uang baru, dan kopi hitam tanpa gula, duduklah Sang Big Bos, Jamaluddin. Kursinya terbuat dari meteorit, titanium, dan kayu yang konon tumbuh di planet sebelah. Ia memutar-mutar gelas kopi sambil tersenyum tipis. Di dinding terpajang foto lima istrinya.
Pintu otomatis terbuka. Fegie masuk dengan napas memburu, wajahnya kusut seperti map perkara yang terlalu sering dibolak-balik.
"Bos..." suaranya bergetar.
Jamaluddin tidak menjawab. Ia hanya menatap tajam. Ruangan mendadak sunyi. Bahkan pendingin ruangan berhenti berdengung, seolah ikut ingin mendengar.
"Bos..." Fegie menelan ludah. "Kawan-kawan sendiri sekarang memburu saya. Anak-anak yang dulu saya didik, yang saya ajari membedakan berkas asli dan fotokopi hanya dari aroma tintanya... sekarang mereka datang membawa surat penahanan."
Jamaluddin tersenyum. Lalu tertawa. Bukan tertawa biasa.
Suara tawanya membuat lampu kristal bergoyang, drone kehilangan sinyal, ikan di akuarium salto tiga kali, printer di sudut ruangan spontan mencetak tulisan, "Tetap Tenang."
"Fegie..." katanya pelan. "Kau ini terlalu banyak berpikir."
"Tapi, Bos... saya bisa masuk penjara."
"Lalu kenapa?"
Fegie terdiam.
Jamaluddin bangkit. Ia berjalan menuju sebuah koper hitam berlapis karbon. Dari dalamnya keluar Laptop Quantum Black Hole X-9000 dan Mesin Prediksi Vonis Multiverse.
Layar menyala. Memproses...Tuntutan: 10 tahun. Prediksi akhir: 3 tahun. Akurasi: 99,999999 persen.
Jamaluddin tersenyum makin lebar.
"Lihat? Mesin saja sudah santai."
"Tapi... kalau semua rahasia terbongkar?"
Senyum Jamaluddin mendadak menghilang. Ia mendekat hingga hanya berjarak beberapa sentimeter.
"Fegie..."
"Iya, Bos..."
"Dengar baik-baik."
Suaranya lirih, tetapi membuat dinding bunker seperti ikut merinding.
"Rahasia para bos... berkas para koruptor elite... ketua partai... para jenderal yang hobinya main golf memakai tongkat emas... semuanya harus terkubur bersamamu. Termasuk rahasia bosmu ini, fahimtum!"
Fegie menelan ludah.
"Kalau ada yang bertanya?"
"Jawab seperlunya."
"Kalau mereka memaksa?"
"Tersenyum."
"Kalau ancamannya berat?"
"Tersenyum lagi."
"Kalau rahasianya hampir bocor?"
Jamaluddin membuka laci kecil. Ia mengeluarkan Flashdisk Antimateri Nano sebesar kuku.
"Telan."
Fegie melotot.
"Telan?"
"Ya. Di perutmu lebih aman dari di brankas mana pun."
Ruangan kembali sunyi.
Beberapa detik kemudian Fegie mengangguk begitu cepat hingga lehernya nyaris berputar seperti baling-baling helikopter.
Tepat pukul 22.00 WIB, rombongan penjemput tiba. Suasananya lebih mirip iring-iringan pengantin dari operasi penahanan. Fegie keluar mengenakan batik motif ayam jago yang licin mengilap. Tangannya melambai santai. Rompi pink tak terlihat. Borgol pun entah sedang libur atau tersesat di dimensi lain.
Sambil menaiki mobil tahanan, ia masih sempat tersenyum. "Pelan-pelan saja, kawan. Jangan lupa nanti ngopi."
Mobil pun melaju meninggalkan bunker. Di belakangnya, Sang Big Bos tetap berdiri memandangi langit malam. Wajahnya tenang, seolah semua telah masuk dalam skenario yang ditulis jauh sebelum bulan belajar memantulkan cahaya.
Begitulah dongeng dari Negeri Embegia. Negeri tempat teknologi bisa membaca isi galaksi, tetapi tak pernah mampu membaca isi hati manusia. Di sana, penahanan kadang terasa seperti pertunjukan, rahasia lebih berat daripada gunung, dan tawa sering menjadi satu-satunya cara agar rakyat tidak pingsan menyaksikan kenyataan yang terasa lebih absurd dari dongeng itu sendiri.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
Editor : Redaksi