Mengetuk Pintu Langit: Refleksi Kemerdekaan yang Hakiki dan Menjemput Indonesia Emas Tanpa Air Mata Kelaparan

INDONESIA MERDEKA, PotlrtalNusantaraNews.co.id Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air...

Hari ini, bendera merah putih kembali berkibar tinggi di langit Indonesia. Lagu kebangsaan kita kumandangkan dengan lantang. Namun, mari kita sejenak berhenti, menarik napas dalam-dalam, dan bertanya pada hati kecil kita masing-masing: Apa arti merdeka yang sesungguhnya bagi kita?

Baca Juga: Jangan Paksa ABG Kehilangan Indonesia di Usia yang Terlalu Dini

Apakah merdeka hanya berarti kita sudah bebas dari penjajah asing? Ataukah merdeka itu punya makna yang jauh lebih dekat dengan dapur dan kehidupan kita sehari-hari

Bagi rakyat kecil, merdeka itu sederhana.

Merdeka itu adalah ketika kita bisa mudah mendapat kerja di negeri sendiri, tanpa harus terpaksa mengadu nasib menjadi buruh di negeri orang.

Merdeka itu adalah saat kita menjalani hari dengan damai, tanpa dicekik rasa cemas.

Merdeka adalah saat harga beras, minyak, dan gas elpiji murah dan gampang dibeli.

Merdeka adalah saat bensin dan solar selalu tersedia untuk menggerakkan roda ekonomi kita.

Dan yang paling mendasar, merdeka adalah melihat anak-anak kita berangkat sekolah dengan senyum ceria, tanpa harus menahan rasa lapar karena perut yang kosong

Namun, kemerdekaan sejati tidak akan pernah terwujud jika hukum di negeri ini masih tebang pilih.

Baca Juga: DePA-RI: Jangan Biarkan Viralitas Menjadi Pengadilan Media Sosial

Kita merindukan keadilan yang nyata. Di mana mafia hukum dan koruptor disapu bersih, tanpa ada yang dilindungi. Di mana para pemaling uang rakyat dihukum lebih berat demi rasa keadilan.

Kita juga mengetuk hati para pemimpin kita.

Jika kabinet pemerintahan semakin gemuk, maka tubuh dan jiwa rakyatnya pun harus ikut gemuk dan sehat. Pelayanan publik harus manusiawi, bersih dari uang pelicin. Para wakil rakyat di dewan yang terhormat harus menyadari kembali sumpah mereka di hadapan Tuhan: menjadi pelayan rakyat, bukan pemburu kekuasaan.

Saudara-saudaraku...

Memperbaiki bangsa ini tidak bisa hanya mengandalkan janji manis politisi atau hitung-hitungan para tengkulak. Kita butuh ketulusan para tokoh agama dan moralitas dari kita semua untuk menjaga keharmonisan hidup. Jangan biarkan Pancasila dan UUD 1945 hanya menjadi slogan kosong yang digantung di awan.

Baca Juga: Raih Predikat Terbaik di Polda Jajaran, Polresta Malang Kota Terima Penghargaan Pelayanan Publik Kapolri

Mari kita jadikan momen ini untuk menghentikan segala pertikaian, suku, maupun golongan. Kita satu Indonesia.

Menuju Indonesia Emas tahun 2045, mari kita satukan napas dan doa: Ya Tuhan, wujudkanlah kemerdekaan yang nyata bagi setiap jiwa di bumi Nusantara. Merdeka yang membawa kenyang, merdeka yang membawa tenang, merdeka yang membawa keadilan.

Amin, amin, ya Rabbal 'Alamin.

Merdeka..!!! Merdeka..!!! Medrdeka...!!!

Editor : Redaksi

Berita Terbaru