MALANG, PortalNusantaraNews.co.id Di sebuah sudut kampung desa Lawangan Daya Kecamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan, di kota Pamekasan, Madura, nama Fajar Risman pernah lekat dengan cap sebagai bocah yang teramat nakal. Namun, jarang ada yang tahu bahwa di balik setiap ulah pemberontakannya, ada luka menganga yang mengiris hati.
Fajar lahir pada 6 Maret 1977, sebagai putra kedua dari empat bersaudara laki-laki, buah cinta pasangan Bapak Sukardi dan Ibu Satuna. Kini, kedua orang tuanya telah tiada. Sang ibu berpulang mendahuluinya lima belas tahun yang silam pada tahun 2011, disusul sang bapak empat tahun kemudian pada 2015. Kehilangan mereka menyisakan ruang rindu sekaligus kilas balik atas lembaran masa lalu yang penuh gejolak.
Baca juga: Pertamina Patra Niaga Pastikan Penyaluran Pertalite di Malang Tetap Berjalan Sesuai Ketentuan
Gumpalan badai dalam hidup Fajar dimulai saat ia beranjak remaja, tepatnya ketika duduk di bangku kelas 2 SMPN 2 Pamekasan. Pada masa-masa pencarian jati diri itulah, sebuah keinginan sederhana berubah menjadi puncak pemberontakan batinnya.
Saat itu, hampir semua teman sekolah Fajar mengendarai sepeda BMX Oyama. Mengingat rasa gengsi dan keinginan khas remaja, Fajar memohon kepada bapaknya untuk dibelikan sepeda yang sama agar bisa membaur dengan teman-temannya. Namun, permintaan itu ditolak mentah-mentah. Sang bapak beralasan bahwa Fajar terlalu nakal dan takut sepeda itu hanya akan digunakan untuk aksi crossbiker yang berbahaya.
Fajar mencoba menerima alasan itu, hingga sebuah kenyataan pahit menghantam perasaannya tidak lama kemudian. Tanpa alasan yang jelas, sang bapak justru membelikan sebuah sepeda balap baru untuk kakak sulungnya. Pedih, cemburu, dan rasa tidak adil berkecamuk hebat di dada Fajar.
"Mengapa bisa begini? Padahal yang memohon dan menangis meminta sepeda itu adalah aku, tetapi mengapa justru Kakak yang mendapatkannya?" batin Fajar menjerit.
Seketika itu juga, muncul krisis identitas yang meremukkan harga dirinya. Dua pertanyaan besar lahir dan terus menghantui pikirannya:
Mengapa bapak berbuat tidak adil padaku?
Sebenarnya, aku ini anak siapa?
Baca juga: Anggota Arisan Nama Baiknya Dicemarkan, Admin Arisan Y Bakal Dilaporkan
Rasa terasing dan tidak dianggap itu akhirnya bermutasi menjadi tindakan nekat. Suatu hari, Fajar meminjam sepeda milik teman sekolahnya. Dipicu oleh amarah yang membakar dada, ia sengaja menabrakkan sepeda tersebut ke pembatas jalan dengan sangat keras. Pelek sepeda itu hancur parah, bengkok, dan tidak bisa dinaiki lagi.
Tindakannya menuntut konsekuensi yang berat. Sesampainya di rumah, amarah sang bapak meledak. Fajar dipukul dan dimaki habis-habisan.
"Mengapa kamu nakal banget, Jar?!" tanya sang bapak dengan suara menggelegar, penuh kekecewaan.
Dengan sisa keberanian dan air mata yang berlinang, Fajar menjawab jujur, "Seandainya ini sepedaku sendiri, tidak akan pernah aku merusaknya seperti ini, Pak!"
"Apa maumu?! Sudah salah masih saja menjawab!" bentak sang bapak sembari melayangkan cambukan bertubi-tubi ke tubuh anak lak-lakinya itu.
Baca juga: Isu "Delapan Enam" di Situbondo: Oknum Polisi Diduga Lepaskan Pelaku Judol dengan Imbalan Rp325 Juta
"Kan aku sudah minta untuk dibelikan, tetapi tidak pernah Bapak dengarkan!" teriak Fajar di dalam hati, menahan perihnya cambukan bapak yang menyayat kulitnya, sekaligus meratapi nasib batinnya yang kian tersisih.
Bersambung...
— Oleh: Fajar Terasing
Editor : Redaksi