Jacob Ereste: Perjuangan Mahasiswa Indonesia Semakin Berat Karena Tidak Mendapat Dukungan dari Kaum Buruh

portalnusantaranews.co.id

BANTEN, PortalNusantaraNews.co.id  Aksi dan unjuk rasa mahasiswa Indonesia yang semakin marak akan lebih bijak disikapi sebagai bentuk kepedulian generasi muda itu untuk mempersiapkan diri memasuki era Indonesia emas yang  sudah seabad -- 2025  -- tertunda dan belum  pernah dinikmati oleh generasi sebelumnya, termasuk kita yang masih hidup sampai hari ini, terutama bagi generasi yang sudah memasuki waktu senja.


Jika suara mahasiswa diredam -- apalagi harus dibungkam -- artinya bisa membunuh sikap kritis mereka untuk membangun dan mempersiapkan masa depan bangsa yang kelak akan mereka warisi sesuai dengan jamannya. Maka konsekuensi logisnya pun -- baik atau buruk -- akan menjadi tanggungan hidup mereka kelak bersama anak turunannya.

Baca juga: Kasi Humas Benarkan PWI Malang Raya Resmi Laporkan Hotman Paris ke Polresta Malang Kota.


Oleh karena itu, sikap  bijak generasi tua patut memberi bimbingan, arahan  -- tidak perlu melarang -- karena kewajiban generasi tua -- cukup menghantar kemana arah pilihan hidup yang hendak mereka tentukan. Tentu saja,  sedikit kesalahan dan kekeliruan wajar saja terjadi, sejauh masih dapat dipahami dan dimaklumi dalam proses pembelajaran untuk memantapkan pilihan terbaik bagi diri mereka sendiri.


Agaknya, puisi penyair besar dunia telah mengingatkan juga bahwa "anakmu,  bukanlah anakmu, mereka adalah anak kehidupan di masa depan", katanya. Puisi yang ditulis penyair Libanon ini,  Kahlil Gibran, cukup bijak dalam  menganalogikan sosok generasi muda -- sebagai anak -- seperti anak panah dan busur yang lentur mengikuti arah busur yang hendak melesat. Sebab anak memiliki jiwa dan takdir -- tidak pantas dijadikan seperti foto copy. 


Sebab satu generasi yang baik sangat berharap pada generasi berikutnya bisa lebih baik, tak elok cuma sekedar menjadi duplikasi dari generasi sebelumnya. Karena itu, aksi dan unjuk rasa mahasiswa bisa  dipahami bukan cuma sekedar untuk meng ekspresikan diri, tetapi upaya pembentukan watak, karakter dan jiwa patriotis berbangsa dan bernegara yang kelak akan sepenuhnya bertanggung jawab terhadap keberlangsungan bangsa dan negara untuk lebih laik -- lebih layak -- bersanding dengan bangsa dan negara yang ada di dunia. 


Meredam -- apalagi sampai membungkam suara mahasiswa -- itu artinya menghalangi atau bahkan menyumbat -- proses kreatif mereka menemukan bentuk dari sikapnya yang mandiri sekaligus merangkai konstruksi bangsa dan negara yang dicintainya untuk lebih baik, bermartabat dengan etika, moral dan akhlak mulia manusia yang layak membangun peradaban yang lebih  baik dan bermartabat . 

Baca juga: Peran Orang Tua dan Lingkungan Sangat Penting untuk Menciptakan Ruang Digital yang Aman, Sehat, dan Positif


Kekeliruan dari apa yang dilakukan oleh mahasiswa sangat mungkin terjadi, seperti apa yang sangat mungkin terjadi dalam tata pelaksanaan penerintahan untuk memberi pelayanan, perlindungan serta bantuan yang dapat dilakukan untuk rakyat. Karena itu, pemahaman terhadap penguasa atas republik dan bangsa ini perlu direnungkan kembali,    bagaimana mungkin kedaulatan rakyat jadi tersingkir hingga menjadi daulat penguasa.


Suara mahasiswa yang diteriakkan di jalan, jelas lantaran suara rakyat tidak bisa -- bahkan tidak mau -- didengar untuk kemudian disampaikan oleh mereka yang tetap merasa gagah mewakili suara rakyat di parlemen. Berulang kali aksi dan unjuk rasa di gerbang gedung DPR RI, tak satu pun anggota wakil rakyat itu yang mau dan berani menyambangi para pengunjuk rasa, yang justru cukup diklaim ditunggangi oleh pihak asing, atau oleh kelompok kepentingan politik tertentu.


Agaknya, dalam kontek serupa inilah para aktivis yang kritis cuma bisa berkata dalam suara yang melemah; negeri ini sedang dalam kondisi dan situasi yang tidak baik", lalu diam membisu tanpa melakukan apa-apa, apalagi hendak ambil  perduli dengan kegelisahan pars mahasiswa, meski masih cukup dominan didukung kaum aktivis dan pergerakan dari berbagai elemen masyarakat serta pegiat sosial yang terus bekerja dan bergerak sebagai bakti terhadap negeri tercintanya ini. 

Baca juga: Polisi Ungkap Pencurian, Pelaku Wanita Sempat terjatuh dari Lantai Tiga Swalayan, Beserta Uang Tunai Rp48,4 Juta


Dalam aksi dan unjuk rasa mahasiswa, pada waktu belakangan ini -- terutama sejak para pentolan tokoh buruh  masuk dalam lingkaran istana, agak sulit diharap kolaborasi aksi dan untuk rasa mahasiswa dapat dilakukan bersama kaum buruh seperti pada jalinan yang  mesra saat melawan rezim Orde Baru. Jadi begitulah dinamika gerakan perubahan yang selalu diharap dapat memposisikan bangsa dan negara Indonesia akan lebih baik dari hidup dan kehidupan dari hari kemarin.

Banten, 17 Juni 2026

Editor : Redaksi

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru