SURABAYA, PortalNusantaraNews.co.id Praktik kotor diduga masih subur di SPBU 54.601.79 Jalan Kayoon Embong Kaliasin, Genteng, Surabaya. Bukan soal pelayanan lambat, tapi soal takaran yang diduga sengaja dimainkan oleh oknum operator nakal.
Korban kali ini bukan warga biasa, melainkan Pimpinan Redaksi http://PortalNusantaraNews.co.id yang merekam langsung kecurangan tersebut pada Minggu (02/11/2026) pukul 15.51 WIB.
Baca juga: Ratusan Pengunjung Membludak di Warung Bebek Gambres x Sego Babat Gambres Pakis Malang
MODUS ANGKA LONCAT: DARI NOL LANGSUNG 514
Aturan main Pertamina jelas: Setiap pengisian WAJIB dimulai dari angka 0. Tapi di SPBU ini, aturannya ditabrak.
Mesin dispenser Solar subsidi tidak mulai dari 0, melainkan langsung start dari angka *514*. Artinya, konsumen sudah membayar 514 rupiah angin, sebelum setetes solar pun keluar.
Saat dipergoki, bukannya minta maaf, oknum operator wanita justru berkelit dengan alasan klasik yang merendahkan nalar konsumen.
"Wah itu karena angkanya patah," dalihnya enteng, seolah konsumen bodoh dan bisa dibohongi.
Ketika dicecar, oknum tersebut malah ngeyel: "Biasa itu pak, itu sama saja."
Apanya yang sama? Selisih 514 itu uang rakyat. Jika satu hari ada 500 konsumen solar dikali 514, berapa juta rakyat dirampok secara halus?
DIBAYAR SERIBU RUPIAH, HARGA DIRI KONSUMEN DILECEHKAN
Puncak pelecehan terjadi saat komplain. Oknum tersebut hanya melempar uang Rp 1.000 sebagai ganti rugi atas dugaan kecurangan sistematis.
"Ini pak saya kembalikan," katanya sambil menyodorkan selembar uang seribu. Sebuah penghinaan bagi konsumen BBM subsidi yang notabene adalah hak rakyat kecil.
PANGGILAN UNTUK PERTAMINA: JANGAN TUTUP MATA!
Redaksi Mendesak:
1. *Manager SPBU 54.601.79 DICOPOT* jika terbukti membiarkan modus ini.
2. *Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus dan Hiswana Migas* turun sidak tera dan audit CCTV di jam kejadian.
3. *Metrologi Disperindag Kota Surabaya* cek keabsahan mesin dispenser.
Ini bukan sekadar soal Rp 514. Ini soal kepercayaan publik terhadap distribusi BBM Subsidi yang dibayar dari uang negara. Jika dibiarkan, modus "angka patah" ini akan terus jadi ladang pungli berkedok operator.
*Catatan Redaksi:* Kami membuka hak jawab pihak SPBU 54.601.79 dalam 2x24 jam.
Red PNN.co.id
Editor : Redaksi