PASEBAN, PortalNusantaraNews.co.id 07/08/2026, Keberhasilan tertinggi seorang pendiri rumah yang melindungi para penulus dari gerusan jaman -- bukan sebuah nama yang memang pantas untuk disebut sebagai penggagas sekaligus pelopor dari gerakan budaya yang telah menjadi tonggak sejarah. Karena ide hasil kerja kerasnya terus berbuah, meski nama dan sosoknya mulai lamat-lamat dilupakan banyak orang. Inilah tokoh pendiri rumah tampat tinggal para seniman, budayawan yang berliprah melalui karya tulisnya yang bisa dinikmati sambil minum kopi dimana pun tempat yang disukai.
Sosok seorang perintis rumah senimam dan budayawan agar dapat bertahan hidup dalam serba keterbatasan untuk tidak pernah menyerah. Meski dalam realitas hidup dan kehidupan terbilang kalah.
Denny JA mengaku sebagai salah satu penopang Satupena, mulai dari dana, jaringan maupun pengarah program. Dari berbagai pertanyaan yang paling mendesak, strong leader -- Denny JA sendiri -- penuh kesadaran mulai mempertanyakan perihal ketergantungan organisasi terhadap dirinya yang sedang menunda kematian institusinya.
Jadi cukup jelas, paparan Denny JA dalam tulisan bertajuk -- "Sebuah Provokasi Menyambut Kongres Satupena 2026" -- yang di release secara meluas -- sebagai pengingat untuk dirinya sendiri dan Satupena bahwa karena model yang sudah ada memiliki tanggal dan waktu kadaluarsa.
Sebagai orang yang mumgkin bisa dianggap penonton yang betada di seberang, saya sendiri sungguh senang menyaksikan kerja serius, keras serta berani dari apa yang dilakukan Denny JA melalui Foundation atas nama dirinya itu dengan menaruh sejumlah dana abadi untuk aktivitas dan kegiatan budaya yang pantas untuk diajukan memperoleh penghargaan dari pemerintah atau Nobel untul mewakili Indonesia sebagai penggerak budaya dalam arti luas untuk kemaslaharan umat manusia membangun peradaban dunia yang lebuh baik, lebih maju dan lebih beradab.
Kesadaran Denny JA menulis suasana batin dirinya sendiri untuk lebih memajukan peran dan kiprah Fondation yang telah dia bangun, percaya bahwa penulis Indonesia cukup banyak yang potensial untuk dapat berkembang melampau penulis kelas dunia. Karena itu diperlulan semacam Imprasario agar seniman dan budayawan Indonesia mampu melamlaui jaman dan puncak kejayaannya.
Baca juga: HUT Kedua DePA-RI, Momentum Konsolidasi Organisasi Dari Pusat Sampai ke Daerah
Begitulah nilai kesadaran spiritual Denny JA, seorang strong leader yang mampu bertanya kepada dirinya sendiri tentang ketergantungan organisasi terhadap dirinya tidak boleh terjadi, karena ketergantungan itu artinya sedang menunda kematian institusi yang telah dibangu n dengan susah payah bisa jadi muspro tiada ada buahnya.
Kesadaran sejarah Denny JA memahami bahwa sejarah tidak menilai organisasi dari niat bail ketika organisasi itu didirikan -- utamanya bagi organisasi seniman dan budayawan seperti Satupena yang sedang dibesut Denny JA -- sebab sejarah akan menguji kempuan organisasi itu dari kemampuan dan ketangguhannya bertahan, ketika para pendiri, perintis dan motor penggeraknya telah mati.
Maka itu pertanyaan yang penting sedang diajukan Denny JA sebagai penulis sekaligus pengagas dan pendiri Satupena yang bersandar sepenuhnya pada Denny JA Foundation sesungguhnya bagaimana membangun organisasi senimam dan budayawan khususnya orfanisasi penulis yang bergabung dalam Satupena yang dia besut bisa langgeng dan abadi, hidup melampaui usia seratus tahun dari sekarang. Kecuali berdo'a, saya pun berharap Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dapat mendukung untuk membangun budaya bangsa bisa semakin maju serta bersanding dengan budaya berbagai bangsa yang maju di dunia.
"Jacob Ereste"
Editor : Redaksi